
Beberapa waktu yang lalu saya dan istri menonton film drama komedi berjudul “Click” film ini lucu namun juga mengharukan sampai-sampai saya dan istri sama-sama terenyuh oleh alur ceritanya. Film ini menggambarkan bagaimana ambisi seorang ayah untuk meraih karir yang lebih baik larut di dalam kecepatan waktu yang tanpa disadarinya membuat ia semakin jauh dari yang namanya kebahagiaan. Ia tak lagi menikmati keharmonisan keluarga yang benaknya hanyalah bagaimana agar cepat kaya secara materi. Walaupun ia berdalih bahwa semua yang dia lakukan untuk keluarga namun akhirnya dia kehilangan istri dan kedekatan dengan anak-anaknya. Bagi istri dan anak-anaknya kehadiran sang ayah jauh lebih berharga ketimbang harta yang menumpuk. Menjelang ajalnya yang mendekat sang ayahpun berupaya menggapai kembali keluarga bahagia yang dulu pernah dia idam-idamkan.
Film “Click” merefleksikan kehidupan kita manusia di era modern ini. Di tengah gempuran konsumerisme dan materialistis yang dengungnya kian kencang seolah menuntut kita untuk berpikir cepat dan bergerak cepat, bahkan kadang kita bergerak tanpa banyak berpikir. Bagi kita mengejar angka-angka jauh lebih penting ketimbang meluangkan waktu untuk memahami pasangan dan anak-anak kita. Mengejar angka-angka jauh lebih penting ketimbang meluangkan waktu untuk berpikir, merenung dan merefleksikan diri kepada Sang Pemberi Hidup.
Materi memang sering membuat kita berorientasi pada kegiatan. Kita berusaha sedapat mungkin supaya jangan ada sedikit pun waktu terbuang tanpa melakukan kegiatan. Kita terus bekerja, mencari peluang baru, atau mengerjakan pekerjaan sampingan, dengan kecepatan yang bertambah dari hari ke hari. Semua kita lakukan dengan alasan mengejar “masa depan” yang lebih baik.
Untuk jangka pendek mengejar materialitas dapat membuat kita mendapatkan yang kita inginkan secara materi namun untuk jangka panjang kita akan membayar mahal dan celakanya Anda tidak akan mampu membeli waktu untuk mengulang semuanya dari awal.
Konsekuensi yang pertama adalah akan banyak hal-hal penting yang terhilang dalam kehidupan kita yang mengalihkan kita dari tujuan hidup yang sebenarnya. Semakin cepat kita berlari tanpa waktu untuk berhenti maka jangan-jangan kita malah menuju ke tempat yang salah lebih cepat. Semakin cepat tidaklah akan menjadi semakin baik kalau kita bergerak ke arah yang salah. Ada baiknya bila kita berhenti sejenak untuk merenung dan menentukan apa-apa yang penting dalam kehidupan kita. Stephen Covey dalam buku legendarisnya The 7th Habits mengatakan “begin with the end in mind”. Mengajak kita untuk memikirkan apa yang kita mau di saat kita meninggalkan dunia ini. Apa kata pasangan Anda, anak Anda, keluarga besar dan kolega Anda tentang siapa Anda? Anda ingin meninggalkan kesan seperti apa diakhir hidup Anda?
Anda lihat iklan speedy baru-baru ini tentang sopir taksi yang “ngebut” membawa ke stasiun kereta api padahal tujuan yang dituju seharusnya bAndara udara. Materialitas sering hanya memikirkan jam dan lupa memikirkan kompas.
Konsekuensi yang kedua adalah berkurangnya kebahagiaan dan kenikmatan dalam hidup Anda. Bolehkah saya bertanya kepada Anda, apa yang Anda cari di dunia ini: materialitas ataukah kebahagiaan? Ada hal yang menarik di sini materialitas identik dengan kecepatan, kebahagiaan justru identik dengan kelambatan. Kelambatan berbicara soal sikap hidup yang mantap dan tidak tergesa-gesa bukan berarti telmi atau lelet.
Hubungan yang berkualitas tidaklah dibangun dengan kecepatan, tetapi dengan kelambatan. Anda harus membangun kepercayaan secara perlahan, bersabar untuk mendengarkan apa yang mereka inginkan, dan menjelaskan apa yang ada di dalam pikiran Anda secara perlahan. Hubungan yang berkualitas adalah hubungan yang didasari kesabaran. Bukahkah kesabaran identik dengan kelambatan.
Hidup yang benar-benar hidup adalah hidup yang menikmati detik demi detik. Hidup yang berkualitas adalah hidup yang mengalir perlahan, bukannya hidup yang senantiasa dilAnda ketergesa-gesaan. Cobalah Anda melihat film “Click” dan Anda akan tahu apa maksud saya sebenarnya.
Saudara, bukahkah waktu yang kita miliki sebenarnya hanyalah “sekarang”. Sekarang adalah sesuatu yang riil sementara masa depan adalah sesuatu yang tidak riil. Ketika saya menuliskan artikel ini, saya benar-benar tidak tahu apa yang terjadi kemudian bahkan semenit ke depan. Tiba-tiba saja istri saya membawakan saya tahu petis dan secangkir kopi padahal saya sedang berada di mal dan dia sedang bekerja. Surprise bagi saya dan ini tak pernah saya tahu sebelumnya. Bagi yang senang investasi saham, tak akan menduga bahwa kini bursa saham dunia lagi berguncang hebat.
Karena hanya “sekarang” yang kita punya marilah kita nikmati apa yang kita miliki sekarang sebagai syukur kita padaNYA. Nikmati indahnya memiliki anak, nikmati memiliki pasangan, nikmati memiliki orang tua, nikmati memiliki pekerjaan, dan nikmati setiap peran yang Anda jalankan sekarang. Bagian kita hanyalah melakukan yang terbaik dari yang kita miliki sekarang sementara masa depan kita serahkan kepadaNYA. (ABA)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar