Jumat, 03 Oktober 2008

Mohon Maaf Lahir dan Batin



Mohon maaf lahir dan batin. Kalimat sangat indah yang diucapkan pada Idul Fitri setiap tahun. Apalagi jawaban yang biasa diberikan adalah: ?Sama sama, mohon maaf lahir batin juga ya.? Mulai dari nol. Zero based starts. A new chapter. A new beginning. Yang lama sudah berlalu, yang baru akan dimulai dengan hati yang bersih karena sudah memaafkan bukan hanya lahir, tapi mencakup aspek yang lebih mendalam yakni batin.

Andaikan semua kita memahami dan mengamalkan arti salam tersebut, dunia akan menjadi semakin indah. Memaafkan kesalahan, kekhilafan dan pelanggaran secara lahir dan batin artinya melupakan semua dan tidak ada bekas menempel yang bisa diungkap kembali. Sebab, melupakan berarti membuang jauh dan bukan menyimpan dalam lemari arsip di hati kita. Kalau ada di arsip, bagaikan buku di perpustakaan hati kita, suatu saat bila kesalahan terulang akan muncul luka lama diungkapkan kembali. Karena, tidak dibuang, melainkan hanya disimpan walau dengan sangat rapi. Tidak heran ada ungkapan: To forgive is to forget. Buanglah jauh sejauh barat dari timur. Cuci bersih dari warna merah kirmizi menjadi putih seperti salju. Hasilnya, tidak ada arsip kotor di hati yang bersih.

Pertanyaan kontemplatifnya adalah: Bagaimana mungkin ini bisa terjadi? Saya kan hanya seorang manusia dengan daging dan darah yang sering menuding dan penuh amarah? Secara bersama banyak orang akan berkata ?amin?, sulit dan mustahil kita bisa memaafkan lahir dan batin. Kendati begitu, banyak pula orang yang dapat mengatakan: ?Sulit memang, tapi bukan berarti tidak mungkin.? Ada harga yang harus dibayar. Dan harganya adalah pada diri kita sendiri bukan pada orang yang menyakiti kita. Maukah kita tersiksa karena tidak memaafkan yang artinya menyimpan virus kotor dalam hati kita? Tidak memaafkan orang akan memperburuk hubungan kita dengan orang itu, dan hubungan kita dengan Tuhan Sang Pencipta batin. Karena, virus kotor di batin akan mengganggu hubungan kita dengan Tuhan tatkala kita berdoa. Apalagi kalau kita mau minta ampun pada Ilahi, Dia akan tersenyum dan berkata: ?Jika engkau tidak mau mengampuni orang lain, kamu pun tidak akan diampuni.? Artinya walaupun sulit, pengampunan sebagai bentuk maaf lahir dan batin diwajibkan hukumnya oleh Tuhan. Itu harus dan wajib dilakukan.

Setidaknya ada tiga perubahan yang dialami bila diri seseorang sedang berproses memasuki kesungguhan hati mau memaafkan secara lahir dan batin. Pertama, change of action -- perubahan dari segi lahir. Dari mata yang menghina, bibir yg mencibir, kata yang melecehkan, hubungan yang kering menjadi hubungan yang normal. Tidak serta-merta menjadi sahabat, melainkan hubungan manusia lain tanpa rasa sinis. Mulai menegur dan memberikan salam tatkala bertemu di jalan, setidaknya tidak menunjukkan masih ada virus yang menempel di tubuh fisik jasmani kita yang bisa dilihat orang yang kita maafkan. Change of action yang pasif artinya kita tidak memulai lagi gerakan fisik yang berseberangan, sedangkan yang proaktif, justru mencari titik temu agar kita bisa bersama lagi. Kita yang merasa dibohongi, disakiti dan diperlakukan tidak adil akan lebih mudah memperbaiki hubungan dengan yang merasa bersalah. Kalau kita proaktif, cairnya hubungan akan semakin cepat dan yang merasa dimaafkan akan semakin menghargai. Ini maaf dalam arti perubahan lahir yang bisa langsung dilihat, bukan dirasakan dengan hati oleh orang lain. Memang sering bisa terjadi sandiwara, kelihatan secara lahir baik, tapi di dalam masih banyak magma yang siap meletup kapan saja. Walau demikian, secara naluri dan alami selalu dimulai dari kemampuan kita mengendalikan lahir, kendati secara batin belum dimaafkan. Kemampuan mengendalikan lahir -- yang berarti aksi secara fisik -- juga merupakan keberhasilan yang tidak mudah.

Kedua, masuk lebih dalam setelah change of action yakni change of mind, perubahaan dalam pikiran yang meliputi perasaan, jiwa dan paradigma yang mendasari perubahan secara lahir. Salam maaf yang didasari perubahan pikiran ini sudah menuntut operasi luka dalam pikiran. Mengubah tuntas pikiran negatif yang ada tentang si dia. Membuang label negatif, luka batin, sejarah masa lalu yang terbenam masuk dalam pikiran. Dalam artikel saya yang lalu, membuang barang rongsongan di lemari pikiran kita ini agar tidak terjadi space jam. Tanpa membuang pikiran negatif, pikiran kita tidak bisa diisi dengan pikiran positif tentang si dia itu. Kalau pun si salah sudah menunjukkan pertobatannya, sulit menerima fakta itu selama bayang-bayang masa lalu masih tertata rapi di pikiran. Passive change of mind berarti menunggu sampai si salah menunjukkan perubahan yang bisa dirasakan pikiran kita. Proactive change of mind berarti mencari justifikasi dan upaya serius untuk mengerti kondisi si salah. Mengubah paradigma, bahwa si salah bukan bermaksud begitu mungkin sekadar khilaf, bukan kesengajaan. Ini menuntut kemampuan berperang dengan our inside. Sebuah peperangan di pikiran yang tidak kasat mata, tapi terus bergulir. Kemampuan kita mengalahkan dan membuang pikiran negatif memerlukan sikap moral yang tinggi. No body's perfect. Everyone can do wrong.

Ketiga, perubahan hati atau yang sering disebut change of heart. Memaafkan bukan hanya secara lahir dan pikiran, tapi sudah masuk ke arena batin, sebuah ruang lingkup spiritual. Change of heart, bukan hanya memaafkan dalam arti mengubah perilaku lahir kita menjadi tidak memusuhi, atau membuang pikiran negatif dalam arsip perasaan. Melainkan, justru mempunyai sikap yang ingin membuat hubungan lebih dekat. Sebuah upaya dari musuh menjadi sahabat. Dari bukan hanya melupakan tapi mengasihi agar dia dapat berbuat lebih baik. Dari yang jauh menjadi dekat. Ini bukan hanya menuntut sikap moral, tapi menuntut sikap spiritual yang tinggi. Bukan hanya memaafkan, tapi mengampuni dan memintakan ampun dari Tuhan Yang Maha Esa dengan doa yang tulus: ?Tuhan, ampunilah dia karena dia tidak mengerti apa yang telah diperbuat. Dan buatlah saya mampu mengasihi dia seperti Engkau mengasihi dia. Jadikan saya saluran kasih-Mu.? Sampai taraf ini kita akan masuk ke area kaizen -- to do things even if. Artinya, mengampuni dan tetap mengampuni walaupun dia nanti akan berbuat kesalahan lagi. Sampai kapan? Tujuh puluh kali tujuh yang artinya tidak ada batasan selama kita juga masih mau dimaafkan dan diampuni oleh Tuhan Sang Pencipta.

Ketiga hal tersebut memerlukan change management pribadi yang unik. Memerlukan bukan hanya knowledge (untuk pengetahuan) tapi juga knee (untuk doa). Kalau sudah sampai tahap change of heart, kita akan melihat keindahan dan kejernihan tatkala kita dengan tulus mengucapkan ?maaf lahir dan batin? (sambil bergumam: Sudah saya maafkan kesalahan Anda dalam lahir dan batin saya lebih dulu). Kita sudah memulai sebelum yang lain meminta. Kalau sudah begini, segala bentuk kesombongan dan arogansi akan runtuh. Sebuah rekonsiliasi batin dan spiritual, membangun manusia seutuhnya akan terwujud. Selamat Lebaran, minal aidin wal faizin. Mohon maaf lahir dan batin.

Tidak ada komentar: