Suatu ketika saya membaca kisah seorang wanita muda yang diperkosa oleh beberapa pemuda saat dia sedang memberitakan kabar baik di suatu desa terpencil. Beberapa waktu kemudian si wanita muda kembali ke desa yang sama untuk kembali memberitakan kabar baik dan mengampuni perbuatan pemuda yang memperkosanya.
Saat beberapa penduduk desa menanyakan alasan kenapa dia mau mengampuni pemuda berandalan yang telah berbuat hal yang jahat padanya. Si wanita muda menjawab singkat, “Ini bukanlah persoalan antara aku dan pemuda itu. Ini adalah urusanku dengan Tuhanku. ”
Wow luar biasa… bukan? Coba Anda bayangkan bagaimana bila kejadian yang sama menimpa kita dapatkah kita melakukan hal yang sama seperti wanita muda tadi?
Sebaliknya banyak orang yang mungkin akan menderita karena kebencian akan orang yang telah menyakitinya atau bahkan melancarkan tindakan balasan terhadap orang tersebut. Dapatkah Anda benar-benar membalas kejahatan dengan kebaikan? Bukankah lebih mudah membalas kejahatan dengan kejahatan? Mungkinkah kita bertindak yang sama seperti wanita muda tadi? Bagaimanakah caranya?
Anda perlu merubah paradigma tentang bagaimana Anda berhubungan dengan sesama manusia. Hubungan Anda dengan sesama tak ubahnya membangun “hubungan segitiga”. Tidak pernah ada hubungan yang terjadi semata-mata antara Anda dan orang lain. Apa pun yang terjadi antara Anda dan orang lain senantiasa melibatkan pihak ketiga, yaitu Tuhan. Tak pernah ada perbuatan yang tidak mengikutsertakan Tuhan. Anda tak akan pernah dapat mengatakan, ” Ini cuma antara saya dan Anda. ”
Faktanya adalah apapun yang Anda lakukan terhadap orang lain pastilah Anda pertanggungjawabkan pada orang tersebut dan juga kepada Tuhan selaku pencipta. Dan pertanggungjawaban Anda kepada Tuhan jauh lebih penting daripada pertanggungjawaban Anda kepada yang lain. Karenanya penting bagi Anda untuk menyadari bahwa urusan Anda adalah berurusan dengan Sang Pencipta.
Hubungan Anda dengan Tuhan adalah sangat personal artinya saat Anda menjalani hidup di dunia ini, Tuhan hanya ingin berurusan dengan Anda secara pribadi tanpa adanya intervensi orang lain. Dia hanya berurusan dengan masing-masing pribadi sebagai ciptaanNya. Yang ada hanyalah melakukan bagian Anda dan Tuhan melakukan bagianNya. Anda hidup dengan caraNya atau dengan cara Anda.
Ketika seseorang berbuat jahat kepada Anda, sering ada bagian dari Anda yang menyuruh Anda membalas kejahatan itu. Setiap aksi memang sering menimbulkan reaksi. Setiap stimulus pasti akan menghasilkan respons. Namun bila Anda memahami hubungan segi tiga ini, Anda akan memberikan respons yang berbeda. Ketika ada orang yang memaki, menfitnah, membenci dan berbuat jahat kepada Anda, Anda tidak akan membalas kejahatan itu dengan kejahatan yang sepadan. Mengapa bisa? Karena Anda sadar sepenuhnya bahwa Tuhan sedang memperhatikan Anda dan tak ada yang luput dari perhatianNya. Anda sadar bahwa membalas kejahatan dengan kejahatan tak akan memperbaiki keadaan justru sebaliknya memperburuknya.
Bukannya Anda tak bisa membalas namun Anda sadar bahwa membalas kejahatan dengan kejahatan akan mengecewakan Tuhan dan memperburuk hubungan Anda denganNya. Dengan menyadari semuanya adalah urusan Anda denganNya akan memampukan Anda untuk menjaga setiap tindakan kita selama kita hidup di dunia ini. Bahkan, seandainya Anda merasakan keinginan yang luar biasa untuk membalas kejahatan dengan kejahatan, Anda tinggal meminta Dia untuk melakukan bagianNya yakni memberi Anda kekuatan untuk menahan diri dan membalas kejahatan dengan kebaikan.
Mother Theresa adalah sosok yang luar biasa menjadi sumber inspirasi bagi banyak bangsa dan dia menuliskan kata-kata berikut ini.
” Orang kerap tak bernalar, tak logis dan egois. Biarpun begitu, maafkanlah mereka. ”
” Bila engkau baik, orang mungkin akan menuduhmu menyembunyikan motif yang egois. Biarpun begitu, tetaplah bersikap baik. ”
” Bila engkau mendapat sukses, engkau bakal pula mendapat teman-teman palsu dan musuh-musuh sejati. Biarpun begitu, tetaplah meraih sukses. ”
” Bila engkau jujur dan berterus terang, orang mungkin akan menipumu. Biarpun begitu, tetaplah jujur dan berterus terang ” .
“ Apa yang engkau bangun selama bertahun-tahun mungkin akan dihancurkan seseorang dalam semalam. Biarpun begitu, tetaplah membangun. ”
“ Bila engkau menemukan ketenangan dan kebahagiaan, orang mungkin akan iri. Biarpun begitu, tetaplah berbahagia. ”
“ Kebaikan yang engkau lakukan hari ini sering bakal dilupakan orang keesokan harinya. Biarpun begitu, tetaplah lakukan kebaikan. ”
“ Berikan pada dunia milikmu yang terbaik, dan mungkin itu tak akan pernah cukup. Biarpun begitu, tetaplah berikan pada dunia milikmu yang terbaik. ”
“ Ketahuilah, pada akhirnya, sesungguhnya ini semua adalah masalah antara engkau dan Tuhan; tak pernah antara engkau dan mereka. ”
Bagaimana menurut Anda ? (

Tidak ada komentar:
Posting Komentar