Jumat, 01 Agustus 2008

Agama Saja Tak Cukup

Seorang bijak sedang berjalan-jalan ketika seorang laki-laki terburu-buru keluar dari lorong pintu. Keduanya bertabrakan dengan keras. Orang itu marah-marah dan mengeluarkan kata-kata kasar. Namun, orang bijak tetap tenang dan tidak membalasnya. Ia hanya sedikit membungkuk, tersenyum dan berkata, “Sahabatku, saya tidak tahu siapakah di antara kita yang bertanggung jawab atas ‘perjumpaan’ ini, tetapi saya tidak mau membuang-buang waktu untuk menyelidikinya. Jika saya yang menabrakmu, saya minta maaf. Jika Anda yang menabrak saya, tak apa-apa.” Setelah berkata demikian, orang bijak ini kemudian tersenyum dan membungkuk lagi, lalu meneruskan perjalanannya.

Pembaca yang budiman, dalam kehidupan kita sehari-hari, berapa banyakkah “tabrakan” semacam ini yang Anda alami? Cobalah Anda bayangkan, berapa banyaknya waktu kita terbuang untuk meributkan hal-hal yang sepele. Berapa banyaknya waktu yang kita luangkan untuk beradu argumentasi, saling menyalahkan, dan saling menjatuhkan. Berapa banyak pula waktu berharga yang kita buang untuk memikirkan masalah sepele serta menyimpan dendam dan sakit hati?


Saya yakin kita semua tentunya ingin bisa bersikap seperti si orang bijak. Richard Carlson, konsultan stres asal Amerika Serikat, menyebut sikap semacam ini sebagai “Don’t Sweat The Small Stuff”. Menurut Carlson, kebanyakan peristiwa yang kita ributkan setiap hari kalau dilihat dari perspektif yang lebih luas sebetulnya hanyalah masalah kecil, masalah yang bahkan setahun dari sekarang pun tak akan pernah kita ingat lagi. Inilah yang terjadi dengan si orang bijak. Persoalannya, bagaimana cara hidup semacam itu?

Kita tak akan meributkan masalah sepele kalau kita tahu bahwa masalah tersebut memang benar-benar sepele. Persoalannya, kita sering kali tidak tahu mana masalah besar dan mana masalah sepele. Ketidaktahuan ini membuat kita menganggap semua masalah sebagai masalah besar.


Lantas, bagaimana cara mengetahui mana masalah besar dan mana masalah kecil? Tak ada jalan lain, Anda harus merumuskan misi hidup Anda. Hidup sebenarnya hanyalah terdiri dari dua bagian: hal-hal penting dan hal-hal yang tidak penting. Merumuskan misi hidup berarti menentukan apa saja yang penting dalam hidup kita. Tanpa ini, semua hal akan terlihat penting.



Namun sayangnya, banyak orang yang menganggap kegiatan merumuskan misi hidup sebagai kegiatan yang menghabiskan waktu. Mengapa kita perlu merumuskan misi hidup? Bukankah kita sudah mempunyai agama? Bukankah agama sudah merupakan bekal yang cukup untuk hidup?



Padahal, kenyataan di lapangan sering berbicara lain. Betapa seringnya kita mendengar orang-orang yang beragama, hafal isi kitab suci, senantiasa menggunakan istilah-istilah agama dalam kosa katanya, rajin beribadah, tetapi malah mempertaruhkan harga diri dan kredibilitasnya untuk kenikmatan sesaat. Bukankah sudah terlalu banyak contoh orang-orang beragama yang rusak kredibilitasnya hanya karena persoalan-persoalan sepele? Mengapa agama tidak mampu menghindarkan mereka dari persoalan harta, takhta dan wanita?

Saya akan mengatakan dengan sangat tegas, agama saja belum cukup. Agama lebih sering bersifat outside–in. Ini berarti ada kekuatan dari luar yang ”memaksa” Anda melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Dengan kata lain, belum terjadi internalisasi dalam diri Anda. Ini tentu saja berbeda bila Anda merumuskan misi hidup Anda. Merumuskan misi hidup adalah kegiatan inside-out. Anda memutuskan jalan hidup Anda dengan penuh kesadaran. Anda menemukan makna hidup Anda yang terdalam. Anda menentukan ingin dikenang sebagai apa. Orang yang merumuskan misi hidup tak sekadar beragama. Ia adalah orang yang spiritual.


Perbedaan antara orang yang beragama dan orang yang spiritual adalah pada timing pengambilan keputusan. Orang beragama acapkali mengambil keputusan pada saat suatu kejadian sedang terjadi, sementara orang spiritual yang telah menentukan misi hidupnya mengambil keputusan jauh-jauh hari, bahkan sebelum peristiwa apa pun terjadi.

Pada saat stimulus yang menggiurkan terjadi -- kesempatan korupsi, kolusi, selingkuh, dan sebagainya – orang beragama biasanya baru berpikir-pikir. ”Apakah saya akan mengambil kesempatan ini?”, ”Apakah lebih baik saya menolaknya saja?”, ”Manakah yang lebih besar: keuntungannya ataukah risikonya?” Inilah saat-saat genting di mana seseorang yang beragama melakukan pengambilan keputusan. Namun, saat-saat seperti itu tentu saja sangat rawan karena stimulus yang datang bisa sangat menggoda dan membuat kita terlena. Dalam situasi tersebut, keputusan kita sering sangat dipengaruhi situasi dan kondisi, keadaan emosional kita, serta berbagai kepentingan sesaat. Ini tentu saja berbeda dari orang yang spiritual. Mereka telah memutuskan jauh-jauh hari mengenai mana yang penting dan mana yang sepele. Karena itu, mereka tidak akan gamang menghadapi stimulus yang menggoda sekalipun.

Namun, sebenarnya ada alasan yang jauh lebih fundamental lagi ketimbang memiliki misi hidup semata. Orang yang spiritual mempunyai kesadaran makro mengenai misi hidup ini setiap saat. Untuk bisa melampaui stimulus fisik, kita harus selalu terhubung dengan pusat spiritual kita yang sejati. Inilah sebenarnya modal spiritual yang harus dimiliki setiap orang: perasaan terhubung dengan sumber spiritual. Akan tetapi, hal itu hanya bisa dilakukan dengan dua cara. Ibarat telepon seluler, pertama-tama, kita perlu senantiasa men-charge baterai kita. Kedua, kita juga harus menjaga agar sinyal yang kita terima selalu kuat setiap saat. Sebetulnya, sumber spiritual senantiasa memancarkan sinyal-Nya kepada kita. Namun, kitalah yang kerap menghalangi datangnya sinyal tersebut. Kita menutupi diri kita dengan berbagai stimulus fisik sehingga tak terhubung dengan pusat spiritual. (Artikel : Arvan Pradiansyah)

1 komentar:

Anonim mengatakan...

Seandainya waktu itu bapak tidak memutuskan untuk recent dari tempat kerja yang dulu. Mungkin kami akan belajar banyak dengan bapak.
Semoga sukses selalu.