Sejak saya beralih profesi sebagai karyawan ke self employee saya memiliki tambahan pekerjaan yaitu membantu istri sebagai Bapak Rumah Tangga (
Kemarin saya diminta istri untuk berbelanja di Papaya Supermarket, supermarket yang membidik segmen atas. Sewaktu saya sampai di parkiran Papaya semua pelanggannya bermobil dan sebagian besar memakai sopir pribadi. Ini terlihat dari tidak adanya sepeda motor yang parkir disitu selain parkir sepeda motor karyawan dan ada segerombolan sopir pribadi yang lagi ngobrol santai.
Supermarket ini memiliki keistimewaan yang berbeda dengan supermarket lainnya yaitu produk yang terjual sebagian tidak terjual di tempat lainnya, produk tersebut adalah produk Jepang dan produk luar negeri lainnya. Produk luar tersebut mulai dari snack, biskuit, candy, beverage, frozen food, sampai coklatpun ada. Papaya juga menawarkan nuansa Jepang dari lagunya, layoutnya, produk fresh, dan masakan khas Jepang. Pokoknya beda banget deh..! Ditambah lagi barang-barang non food baik asesoris, house ware, stationery, mainan, dan souvenir khas Jepang pun terjual di tempat ini dengan satu counter tersendiri yaitu Daiso. Plus counter bakery merk Komugi juga menambah keistimewaan Papaya. Troly dan keranjang belanjapun baru pertama kali ini saya melihatnya di Surabaya, saya yakin itupun di impor dari Jepang.
Papaya pandai melihat peluang dan ceruk pasar yang belum disentuh oleh pemain supermarket lainnya. Papaya jeli melihat kekurangan pesaingnya yakni supermarket Sinar Bintoro yang tidak maksimal bermain di segmen atas. Papaya mengambil ceruk ini dengan cerdiknya dan kini bisa dikatakan bahwa Papaya bermain sendirian di segmen ini, kehadiran Ranch Market-pun tidak berdampak pada pasar Papaya yang telah terbentuk kuat, walaupun keduanya bermain di pasar atas.
Papayapun pandai memilih lokasi di kawasan elite Surabaya yaitu di kawasan Darmo Surabaya Barat dan kawasan Margorejo Surabaya Selatan. Kedua lokasi ini terkenal sebagai tempat tinggal orang kayanya surabaya. Sementara pusat kota ada SOGO supermarket (relatif sepi) dan Ranch Market di Kawasan Dharmahusada. Praktis Papaya melenggang sendirian di pasarnya.
Papaya tidak perlu banting harga ataupun promosi segencar supermarket lainnya. Mereka hanya menggunakan kekuatan word of mouth alias getok tular di antara pelanggan setia mereka. Mereka bahkan dapat menikmati margin diatas rata-rata industri supermarket tanpa harus bertarung di sisi harga. Bagi pasar atas harga adalah nomor sekian setelah pelayanan dan kenyamanan berbelanja. Bahkan harga beberapa barang impor merekapun lebih murah ketimbang supermarket lainnya yang biasanya di supermarket lain produk impor adalah produk bermargin tinggi karena sebagai penyeimbang produk bermargin rendah.
Papaya menjalankan konsep blue ocean ketimbang berebut kue dengan pemain lainnya lebih baik mencari kue sendiri. Dan kini Papaya seolah-oleh berteriak kepada pemain supermarket lainnya “Jangan berebut kue bos!” (AB)

1 komentar:
Bos, sayangnya ini bertolak belakang dengan salah satu Supermarket yang ada disby (Supermarket Lokal). Supermarket ini berharap bisa menjadi yang terbaik buat tempat berbelanja. Tapi disisi lain sulit untuk menerima segala perubahan. Begitu sulitnya menerjemahkan bahwa investasi jangka panjang sangat bermanfaat bagi bisnis tsb. Ini adalah salah satu contoh yang dijalankan : Ada salah satu Supermarket yang ada di Eropa, bersedia membayar 5$US bagi pelanggannya yang mengirimkan photo sambil menunjukkan tas kresek brand - nya selama melakukan travelling. Photo yang sudah dikirim kemudian dipajang ditoko tsbm, ini adlh ide yang luar biasa gila tapi mengena. Intinya kita harus memanjakan pelanggan kita yang berbelanja. Jangan pernah berharap hasil yang serba instant, percayalah jika kita melihat contoh diatas maka kita tdk akan pernah kesulitan kehilangan pelanggan. Bravo...
Posting Komentar