Tahun ini Indonesia berusia 63 tahun. Sebagian bilang usia ini cukup muda bagi sebuah negara, namun bagi saya usia ini sebenarnya udah cukup tua. Bagi yang bilang usia 63 muda menurut saya pastilah pejabat negara karena sebagai alasan pembenaran atas kondisi Indonesia saat ini sehingga masyarakat diharap memaklumi atas segala ketidakberesan tata negara. Mulai dari pembangunan ekonomi, pemberantasan kemiskinan, pengentasan daerah tertinggal, pengelolaan sumber daya alam sampai penegakan hukum yang amburadul.
Coba kita bandingkan dengan negara lain! Singapura memperoleh kemerdekaan pada 9 Agustus 1965, Korea Selatan pada tanggal 15 Agustus 1948. Usia negara mereka lebih muda ketimbang negara tercinta kita Indonesia. Dari sumber daya alam negara kita jauh lebih kaya ketimbang negara tetangga kita bahkan lebih kaya dari Australia. Namun faktanya negara tercinta kita di usia ke 63 masih termasuk negara miskin dunia, sedangkan Korea Selatan dan Singapura termasuk negara kaya. Ironis kan? Tanya kenapa?
Ternyata di usia 63 tahun kemerdekaan Indonesia, disadari atau tidak kita masih dalam penjajahan. Bukan penjajahan fisik oleh Belanda ataupun Jepang melainkan penjajahan non fisik. Penjajahan bentuk ini juga memberikan efek tak kalah merana bangsa ini saat dijajah Belanda. Penjajahan ini dalam bentuk :
1. Penjajahan mental, Indonesia telah menjadi negara terbesar dalam tindak korupsi. Korupsi telah menjadi bagian yang melekat di negara ini. Dunia politik, ekonomi, pendidikan, bahkan hukum tak lepas dari korupsi. Bantuan sosial pun di-embat sungguh keterlaluan. Ini menunjukkan bahwa penyelenggara negara ini telah dirongrong oleh oknum-oknum yang mentalnya terjajah. Mereka mengesampingkan kepentingan negara, kepentingan rakyat banyak yang ada di otak mereka adalah memperkaya diri. Ini menunjukkan otak mereka tak lebih besar dari dengkul mereka.
2. Penjajahan ekonomi, kebijakan-kebijakan ekonomi kita masih dikendalikan oleh kekuatan negara kaya yang tentunya sangat merugikan rakyat Indonesia dan menguntungkan pihak asing. Lihat aja kontra jangka panjang Free Port (PMA Amerika) yang hanya mengharuskan mereka membayar semacam Royalty atau apalah istilahnya yang nota bene hanya sebagian kecil keuntungan yang masuk ke kas negara. Harusnya pemerintah kita yang membayar royalti atas pemanfaatan teknologi asing sementara sebagian besar keuntungan lari ke kas negara. Ini tentu jauh lebih baik. Kebijakan BBM juga salah satu dampak ketergantungan kita terhadap asing. Alih-alih BBM naik, perusahaan minyak asing gencar membangun SPBU di Jakarta yang ujung-ujungnya kenaikan harga BBM akan semakin mempertebal pundi-pundi milik asing.
3. Penjajahan politik, lihat aja bagaimana era reformasi tidak lebih baik ketimbang orde baru. Demokrasi digaungkan oleh asing dengan merebaknya puluhan partai-partai politik yang bikin mumet makin banyak suara bukankah lebih bising dan runyem. Sementara negara yang menggaungkan “kemerdekaan demokrasi” hanya memiliki dua partai (demokrat dan republik) lalu yang bodoh sebenarnya siapa ya ? Jawab sendiri deh haha....
4. Penjajahan hukum, bagaimana jurus-jurus mabuk ala Druken Master kini ditunjukan oleh para petinggi gedung bundar. Boro-boro sibuk menegakkan keadilan malah sebaliknya sibuk menjual perkara layaknya pengusaha. Menjual “kebenaran” adalah keahliannya. Jadi sales aja deh pak! Ga usah jadi jaksa apalagi jaksa tinggi. Ntar jatuh lho karena ketabrak angin KPK. Belum lagi pak Pol (polisi maksudnya)lagi-lagi dipenuhi para detektif yang merangkap sebagai penjual jasa perdamaian.
Penjajahan inilah yang kini masih bercokol di sebagian besar oknum penyelenggara negara yang membuat bangsa ini berjalan mundur kebelakang dari semangat proklamasi. Yang membuat negara kita menjadi negara miskin sementara kekayaannya beralih ke tangan asing dan tangan koruptor. Namun untungnya masih ada tangan-tangan bersih yang siap membangun bangsa demi kepentingan rakyat, sayangnya jumlah mereka tidaklah banyak. Di usia 63 tahun ini, saya pribadi berharap semakin banyak orang-orang yang bersih, yang hati dan otaknya tidak bergambar US$ mau berpartisipasi dalam membangun negeri dan membangun mental anak bangsa.
Dirgahayu Indonesiaku tercinta! (AB)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar