Anda tahu kan siapa dia? benar dialah Dewi Sandra. Anda tahu karena kecantikannya bukan? Di dunia ini kecantikan bagai magnet yang menarik perhatian semua pihak terhadap pemiliknya. Dengan bekal ini pemiliknya dapat menuai banyak peluang yang ada, baik yang tertarik datang dengan sendirinya maupun yang sengaja dipikat. Pantas saja banyak wanita cantik dipinang oleh banyak orang kaya. Namun cantik fisik aja tidaklah cukup di jaman sekarang perlu juga dibarengi dengan inner beauty atau kecantikan batin, sikap dan perilaku. Nah kalau sekomplit ini yang antri sebanyak orang antri BBM haha.. Saya mau bertanya nih, Anda pilih mana cantik tapi hatinya jahat atau hatinya baik tapi penampilan jelek, ayo pilih mana? katanya lebih baik pilih yang cantik karena Tuhan bisa mengubah hati seseorang namun tidak bisa mengubah wajah seseorang. Betulkan? haha.. bercanda nih.
Oke mari kita kembali serius nih. Kecantikan dalam dunia usaha biasa kita kenal dengan reputasi. Reputasi adalah intangible asset atau aset yang tak berwujud yang mampu membentuk suatu competitive advantage, suatu kekuatan pembeda yang mendukung value creation, tidak tergantikan, dan sulit ditiru. Reputasi yang baik mendatangkan ganjaran yang tidak saja bersifat finansial berupa revenue dan profit tetapi juga menggaransi pihak-pihak terkait terhadap resiko yang melekat padanya. Reputasi yang baik dapat mempertahankan kesetiaan pelanggan, menjadi bibit word of mouth yang dapat menarik pelanggan baru, dan dalam jangka panjang menjadi kunci untuk memenangkan persaingan bisnis.
Tidak heran jika reputasi perusahaan merupakan aset strategis, karena reputasi dapat meningkatkan value dari perusahaan yang bersangkutan. Reputasi yang kuat membantu perusahaan tidak hanya dalam menjual produknya dengan harga yang menguntungkan, tetapi juga dalam menarik karyawan berpotensi tinggi untuk bekerja padanya. Perusahaan dengan reputasi yang kuat cenderung menjadi perusahaan idaman dan incaran bagi profesional yang qualified. HM Sampoerna adalah contohnya, siapa yang tak kenal reputasi profesionalitasnya hingga Philips Morris membelinya diatas nilai buku yang konon mencapai 5 triliun rupiah atau siapa yang tak kenal citibank sebagai incaran para profesional yang ingin berkarir cemerlang sebagai banker. Citibank adalah sekolah para banker.
Kecenderungan selama ini adalah perusahaan melihat reputasi perusahaan lebih berdasarkan persepsi internal dan kemudian persepsi tersebut diposisikan sebagai indikator dari performa perusahaan di masa lampau. Perusahaan seperti ini lamban memberi perhatian pada aspek-aspek operasi bisnis yang berorientasi pada perkembangan bisnis ke depan.
Kecantikan dapat dibangun dan dipelihara, demikian pula halnya dengan reputasi. Reputasi tidak lepas dari harapan stakeholdernya, baik yang rasional maupun emosional. Kecantikan sejati terpancar dari dalam diri pemiliknya (inner beauty), demikian pula reputasi sejati terefleksikan dalam kegiatan operasional sehari-hari. Reputasi sejati hanya akan nampak jika telah menjadi bagian dari karakter, budaya, dan
Saat keadaan memaksa perusahaan untuk berubah, tidak sedikit perusahaan dalam mengelola reputasinya hanya dengan perubahan di permukaan kulit saja. Padahal perubahan kosmetis seperti penggantian logo semata tidak akan berarti banyak. Pengelolaan reputasi, apalagi bagi perusahaan yang baru saja mengalami krisis, membutuhkan perubahan yang fundamental dalam satu proses yang terintegrasi.
Reputasi yang kuat dibangun dari tindakan operasional sehari-hari yang konsisten dengan tata nilai perusahaan, tidak cukup satu gebrakan saja. Diperlukan segmentasi dan penentuan skala prioritas untuk membidik stakeholder yang secara kritis mempunyai dampak yang tinggi (high impact), misalnya influencer yang dapat merubah opini. Untuk menjembatani perusahaan dengan stakeholdernya baik dalam masa krisis maupun masa 'damai' tentu saja dibutuhkan komunikasi yang proaktif dan terencana dengan baik.
Memberikan nilai tambah yang disertai dengan efek kejut, layanan yang prima, dan hubungan baik yang selalu terjaga dapat berasosiasi pada "preferred choice" di antara stakeholder. Hubungan yang baik tercipta melalui transparansi dan konsistensi yang membentuk kredibilitas, menimbulkan kepercayaan dan respek stakeholder. Ditopang oleh tanggung jawab yang dijunjung tinggi serta komunikasi yang tepat, elemen-elemen ini akan sangat bernilai bagi terbentuknya reputasi yang baik. (AB)

1 komentar:
Bos, makin oke aja nich artikelnya...bravo
Posting Komentar