People change. Singkat dan padat untuk dijadikan jawaban pamungkas bila tak mampu memahami perubahan perilaku kolega kita. Kalau arah perubahan dari negatif ke positif, kalimat itu diucapkan dengan intonasi sopran atau tenor dengan senyum simpul tanda asa baru. Sebaliknya, bila perubahan ke arah negatif, maka intonasinya alto atau bas dengan nada getir tanda tak mafhum.
Sayangnya, kebanyakan orang bergerak positif-negatif tak beraturan. Kalau angin lagi ke arah positif, ia pun ikut terseret positif. Sebaliknya begitu pula. Sehingga, muncul sindiran seperti bunglon dan oportunis untuk konotasi negatif; sedangkan fleksibel dan adaptif untuk konotasi positif.
Idealisme sewaktu mahasiswa ataupun dosennya mahasiswa dengan teriakan reformasi seakan-akan sirna tak berbekas tatkala sudah duduk di birokrasi. Korupsi bukan menjadi lawan lagi. Dengan intelektualitas yang lebih tinggi, korupsi ditelikung dengan gaya yang jauh lebih canggih dan soft dibanding era sebelumnya. ”Kan bukan untuk kepentingan pribadi,” kilahnya tanpa rasa bersalah. ”Itu hanya sumbangan wajar untuk yayasan istri saya,” ada pula yang lugu berargumen begitu. ”Kok cepat berubah ya,” sergah teman yang tak percaya. ”People change,” jawab saya pendek.
”Dulu, dia adalah seorang yang .......,” ini adalah ungkapan perubahan ke arah yang tak sesuai dengan harapan bila dihubungkan dengan perubahan perilaku. ”Dia sudah sukses, terhormat, kaya dan memiliki segalanya. Sayang dia tidak seperti yang dulu kita kenal,” begitu ungkapan lain dari seseorang yang kehilangan kehangatan seorang sahabat. Bukannya bangga memiliki sahabat yang sukses, melainkan mengelus dada, sebab sahabat itu tidak seperti yang dibayangkannya. People change.
Kala sang idola berubah, pengidola juga cepat berubah. Idola yang menjadi panutan karena budi pekerti dan antipoligami berubah menjadi alergi pengidola tatkala sang idola dengan terpaksa harus menikah lagi. Simbol politisi yang bersih dan idealis langsung tersungkur menjadi cercaan pengikutnya hanya karena menerima dana nonbujeter. Kalau sang pemimpin bisa berubah, pengikut pun bisa berubah. Sekali lagi, people change.
Pertanyaannya, kenapa ada yang cepat berubah dan kenapa ada pula yang mampu bertahan?
Dalam bahasa filosofi, itu adalah sesuatu yang rooted dan grounded dalam hati manusia. Dalam bahasa manajemen, itu adalah karakter. Sementara itu, saya lebih senang menyebutnya sebagai watak. Kalau perubahan itu disebabkan faktor watak – yang acap kali baru muncul setelah ada kesempatan, kemampuan dan kemauan – maka, ia menjadi perubahan yang permanen.
Seseorang yang memiliki watak penggerak kehidupan berorientasi pada kekayaan materi, maka seluruh aktivitas, koneksivitas serta kolektivitas dihubungkan dengan asas return on investment dan what’s in it for me. Karya kehidupannya tak jauh dari mammon (pendewaan kekayaan – Red.) atau yang disebut uang. Perilakunya akan berubah ketika menghadapi orang dengan tingkat kepemilikan kebendaan yang berbeda.
Orang hanya menghormati orang lain yang lebih kaya dibanding dirinya. Bisa bersikap merendah dan mengagumi hanya bila orang lain itu makmur. Sikap, tutur kata dan olah gerak menjadi sangat sopan hanya karena tamu terhormat itu memiliki harta. Seluruh perilakunya berubah tatkala berhadapan dengan orang yang lebih berada. Dan, itu bisa terjadi dalam bilangan detik tatkala bertemu dengan kolega dalam reuni teman-teman semasa SMA. People change.
Apabila wataknya adalah haus kekuasaan, ia akan tunduk pada orang yang lebih berkuasa atau yang mampu mendudukkan ia di kursi kekuasaan. Teman bisa diubah menjadi lawan kalau itu menghambatnya memperoleh kursi kekuasaan. Sahabat sejatinya adalah kekuasaan. Itu artinya bermain dalam politik menang-kalah. Berkuasa atau dikuasai. Jangankan rekan pemasok, pelanggan dan kolega, pemimpin langsung pun sering dilibas bilamana ia mampu masuk ke akses pemimpin dari pemimpinnya. Dan, itu bisa terjadi dalam bilangan bulan tatkala ia harus mulai unjuk kekuasaan. People change.
Namun, terkadang perubahan perilaku bukan karena perubahan watak. Orang terpaksa harus berubah untuk suatu saat mampu mengubah. Atau, ia berubah karena ketidakmampuan dalam mengubah kondisi lingkungan. Ia diubah oleh keadaan. Tak mampu bertahan apalagi mengubahnya. Ia masuk dalam kategori terkena penyakit watuk (batuk dalam bahasa Jawa). Sebagai orang sakit, ia bisa lemah, lesu, lelah, dan kelihatan kalah. Toh, perubahan itu hanyalah sementara. Ketika ia sudah sehat, ia akan kembali seperti yang dulu.
Memang sulit untuk tidak tertular watuk kalau lingkungan sedang terkena endemi influenza. Apalagi, kalau ia bermaksud menolong yang sakit flu. Ia harus berani terkena flu, sekalipun ia hanya bermaksud menolong si penderita flu. Kalau ia ceroboh malah akan mudah tertular; kalau tidak, bukan tidak mungkin ia tetap imun. Lingkungan bisnis, politik dan birokrasi boleh korupsi, tetapi bukan berarti kita boleh ikut melakukannya. Banyak pengusaha menekan karyawan, bukan itu yang menjustifikasi kita melakukan yang sama agar bisa kompetitif di pasar. Banyak yang memalsukan merek luar negeri pada produk lokal, tapi itu bukan contoh yang harus ditiru untuk tetap survive.
Tidak ada yang sempurna melawan pengaruh lingkungan. Yang menjadi masalah, bila lingkungan yang buruk mengubah watak kita. Kalau sekadar tertular watuk masih ada obatnya, tapi kalau sudah ke arah watak, setan pun tak mampu mengontrolnya, apalagi seorang manusia yang berpangkat pemimpin. Yang ini sudah urusan Tuhan Sang Pencipta. (Paulus Bambang – Vice President United Tractor)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar