Empat bulan lalu, perusahaan tempat istri saya kerja mengundang AW guna training motivasi. Biaya investasi yang dikeluarkan tak kurang dari 30 juta rupiah hanya untuk 4 jam dan beberapa hari yang lalu ada juga perusahaan lain yang mengundangkan trainer leadership specialist dengan investasi 2,5 juta rupiah per peserta untuk satu hari training. Bayangkan berapa rupiah yang masuk kantong trainer bila ada 30 peserta. Dengan besarnya investasi tersebut secara otomatis besar pula harapan perubahan yang diharapkan owner dari peserta training. Seakan-akan owner berharap dengan semakin terkenalnya pembicara dan semakin besar investasi training maka perubahan dapat terjadi seperti membalikkan tangan. Kejadian serupa pernah saya alami sewaktu masih bekerja sebagai profesional di salah satu perusahaan di Surabaya. Owner juga menginginkan satu kali sesi training dan karyawan harus menunjukan perubahan. Training ini dilakukan secara internal oleh staf perusahaan yang otomatis tak memerlukan dana yang besar namun tetap saja owner menuntut harapan yang tinggi sementara support lainnya tidak diberikan.
Alih-alih perubahan perilaku dan kinerja terjadi, sebagian mereka tambah malas dengan training dan menganggap training tak memberikan faedah dalam diri mereka, training hanya semacam penambahan pengetahuan saja. Namun ada pula yang meningkat motivasi dan kinerjanya, sayangnya hanya bertahan beberapa bulan saja bahkan ada yang hanya beberapa minggu dan setelah itu kembali pada perilaku dan kinerja yang lama. Dan bila kejadian seperti ini berulang beberapa kali justru mereka akan antipati dengan yang namanya training.
Harapan owner pada kenyataannya tak bersambut, lalu dimana letak salahnya? Yang perlu diubah adalah persepsi bahwa trainer bukanlah pengubah, trainer bukanlah magician yang saat dia berbicara lalu simsalabim... perubahan terjadi. Tak peduli siapapun trainer-nya, tak peduli berapa mahal dan hebat teknik training-nya, perubahan tetaplah berasal dari dalam diri masing-masing peserta. Trainer hanyalah seorang pematik api, penggugah motivasi dalam diri peserta. Untuk perubahan perilaku diperlukan peran aktif peserta.
Setidaknya ada beberapa hal yang membuat training menjadi efektif dalam menggerakkan perubahan perilaku dan kinerja, antara lain :
1. Sikap peserta training, bersikap seperti bensin atau seperti air. Sikap ini juga dipengaruhi oleh kondisi hidup atau kondisi kerja peserta baik permasalahan yang dihadapi maupun harapan di masa depan. Nah disini keahlian trainer diperlukan untuk mengekplorasi dan menyadarkan peserta training akan fakta riil dalam kehidupannya dan menaruh harapan baru di masa depan. Bila peserta bersikap seperti bensin, maka terjadilah api yang membara dalam diri peserta dan membakar semangat perubahan dalam dirinya. Namun bila peserta bersikap seperti air tak kan terjadi api sedikitpun walaupun trainer udah berbicara meledak ledak dan berbusa busa.
Anda tahu kan Tung Dusem Waringin (
Dengan kondisi yang dramatis, ketakutan akan masa depan dan disertai pengorbanan yang besar seakan menciptakan moment yang pas yang menggerakkan roda perubahan. Disisi yang lain peserta training corporate yang notabene tak mengeluarkan biaya sepersenpun, yang cukup puas dengan kinerja mereka dan menganggap perubahan sesuatu yang menyakitkan bagi kenyamanan mereka tentu membuat mereka tetap berada pada status quo. Namun syukurlah masih ada sebagian yang ingin keluar kotak kenyamanan dan bersikap seperti bensin.
2. Upaya berikutnya adalah menjaga api tetap menyala dan menyulut api-api baru lainnya dengan cara kontinuitas training, artinya training tidaklah cukup dilakukan hanya sekali namun perlu upaya sistematis dan berkesinambungan terhadap training-training berikutnya yang dibutuhkan untuk me-maintance dan meningkatkan kualitas perubahan. Training motivasi, personal development, etos kerja, leadership, team work, pengetahuan dan ketrampilan per masing-masing bagian juga perlu dilakukan. Tentunya melalui training needs analysis, design training, implementasi dan evaluasi training
3. Dukungan budaya perusahaan, seringkali training tidak menjadi efektif karena kurangnya dukungan budaya perusahaan yang selama ini sudah mendarah daging sehingga justru memadamkan api perubahan yang telah membara. Budaya perusahaan ini lebih mencerminkan karakter owner atau si pengambil keputusan puncak. Nah kalau udah begini tentunya perubahan diri sang pemimpin sangat mutlak diperlukan sebagai role model bagi para bawahannya.
4. Sistem kerja, setelah budaya perusahaan berubah maka perlu upaya konkret dalam men-design sistem kerja yang mendukung peningkatan kinerja per masing-masing departemen. Efektifitas struktur organisasi, standard operation prosedure, standard administrasi prosedure, peraturan perusahaan, reward and punisment, standard control internal dll.
Dengan dukungan 4 hal diatas maka harapan perubahan pasca training niscaya akan terjadi. Sekali lagi trainer is not magician. Sukses selalu (AB)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar