Slogan ini tentu tidak asing bagi Anda. Sering kita melihatnya pada stiker yang biasanya tertempel di kaca belakang angkot atau slebor belakang kendaraan bermotor, dapat pula kita jumpai di bak belakang truk. Tujuannya agar pengendara yang dibelakang menjaga jarak dengan kendaraan yang di depan agar bila kendaraan di depan berhenti mendadak tidak terjadi tabrakan dengan kendaraan di belakangnya. Maksud slogan ini untuk menghindari konsekuensi dari dampak pelanggarannya "nabrak benjut" yang sering tertempel pula pada bagian belakang kendaraan hehe... Slogan ini tepat untuk tujuan yang tepat di jalanan yang cukup rawan terjadinya kecelakaan.
Slogan ini tepat juga digunakan pada pasangan muda mudi yang lagi dimabuk asmara. Awas jaga jarak Anda! berarti kalau terlalu dekat akan berpotensi terjadi tabrakan yang berakibat pada buntingnya perut pemudi karena sang pemuda telah menaruh down payment-nya hehe..
Awas jaga jarak Anda! juga dapat digunakan pada hubungan sekretaris dengan boss-nya khususnya bagi boss yang sudah beristri dan saling curhat masalah pribadi. Bila ini terlalu sering dan terlalu dekat bisa berpotensi pada berakhirnya mahligai pernikahan sang boss dengan istrinya. Dan biasanya penyesalan datang belakangan boss... do not forget boss!
Sayangnya slogan ini juga sering dipakai pada kepemimpinan di banyak perusahaan. Top manajemen sering kali menjaga jarak dengan anak buah mereka baik di level middle maupun di bottom manajemen. Hubungan mereka sebatas hubungan kerja yang lebih menekankan pada instruksi dan ketaatan pada instruksi itu sendiri. Hubungan ini menganggap manusia sebagai aset perusahaan, pimpinan sebagai operator dan anak buah sebagai mesin yang menjalankan fungsi sesuai instruksi operator. Kalau udah begini yang ada hanya tuntutan dari kedua belah pihak. Pimpinan mengharapkan sense of belonging dari karyawan yang di dalamnya berarti kepedulian dan kecintaan pada perusahaan. Sementara karyawan sendiri merasa diabaikan, tak ada pengembangan, tak ada pelatihan, tak ada kepedulian perusahaan akan kesejahteraan berdasar prestasi, rasa aman dan penghargaan akan kontribusi. Dua kutub yang tak dapat bertemu karena memang berjauhan boss.. kan katanya jaga jarak!
Karyawan atau anak buah ga akan peduli sebelum pemimpinnya peduli pada mereka. Kepedulian atau kedekatan ini tidak melulu berkaitan dengan uang, sesuatu yang mendasari kenapa pemimpin enggan dekat dengan anak buahnya. Namun bukan hanya uang yang menjadi satu-satunya alasan, pemimpin jaga jarak karena mereka kuatir anak buah akan kurang ajar atau ngelunjak, bahasa jawanya dikasih hati ngerogoh rempelo, benarkah? Hal ini benar bila kedekatan pimpinan dan karyawan tak ada batasan aturan ataupun etika, benar bila pimpinan menjadi sungkan menindak tegas pelanggaran anak buahnya, benar bila ada toleransi akan penyimpangan standard. Selama pemimpin dapat menjalin hubungan dengan karyawan sebagai pribadi maupun mitra kerja dan menindak tegas setiap kesalahan atau penyimpangan standard kerja, maka slogan awas jaga jarak Anda! boleh diabaikan boss. (AB)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar