Beberapa hari ini gairah menulis saya di blog sempat macet, bukan karena ide tapi lebih karena ada beberapa rekan menyoroti tata bahasa dan tata cara penulisan yang menurut mereka kurang tepat. Atas saran mereka saya menyampaikan banyak terima kasih, namun tanpa disadari saran tadi membuat saya ragu mem-posting dua karya tulis saya ke blog gplus dan dampak berikutnya saya jadi kurang sreg menulis. Dampak positif dari rekan saya tadi adalah saya sibuk mengumpulkan informasi tentang tata cara penulisan yang benar sebagai bagian proses pembelajaran saya.
Saat saya menuliskan tulisan ini, saya baru disadarkan tentang motif utama yang melatarbelakangi keberadaan blog gplus. Motif tersebut adalah MEMBERI. Ya.. betul motif blog gplus adalah memberi serta membagi motivasi, pengetahuan, pengalaman hidup dan gagasan kepada para klien, kolega, teman dan siapa saja yang haus akan pembelajaran. Karena motif MEMBERI inilah saya kembali bergairah menuliskan gagasan, pengetahuan dan pengalaman hidup saya kepada para rekan-rekan sekalian setelah beberapa hari saya macet menulis.
Hari Selasa lalu, tepatnya tanggal 24 Juni ketika saya berada di salah satu tempat ibadah di Surabaya untuk memberikan training. Tiba-tiba dibenak saya muncul pengetahuan tentang the power of giving, kekuatan memberi. Nah pengetahuan inilah yang mendorong saya ditengah malam seperti ini terjaga dari tidur dan mulai mengetikkan tulisan ini pada Nokia 9300 saya. Ya.. keinginan untuk berbagi dengan Anda lewat tulisan jauh lebih penting daripada tata cara penulisan yang dapat saya pelajari seiring dengan proses tulis menulis itu sendiri.
Oke.. mari kita mulai pembahasan tentang kekuatan memberi. Memberi adalah proses yang tidak bisa dilepaskan dalam kehidupan manusia. Ini adalah esensi, inti dari kehidupan itu sendiri. Tahukah Anda bahwa kehadiran Anda di dunia ini karena proses memberi? Bukankah kita dilahirkan didunia ini dimulai saat ayah kita memberikan benihnya pada ibu kita? dan karena kehendakNYA, proses tersebut menghasilkan kehidupan Anda dan saya. Kekuatan MEMBERI adalah menciptakan KEHIDUPAN. Tindakan kita memberi akan menciptakan kehidupan yang kita inginkan. Bila Anda ingin mendapatkan banyak kebaikan di dunia ini, maka Anda harus memberi kebaikan Anda pada siapapun, dimanapun dan kapanpun. Bila Anda ingin mendapatkan banyak wawasan Anda harus memberikan waktu, tenaga dan uang Anda untuk membeli buku, surfing di dunia maya, membaca dan juga membagikan wawasan yang Anda miliki kepada orang lain agar Anda mendapatkan pemahaman baru atas wawasan tersebut. Saya punya kolega yang suka memberi, beliau adalah seorang yang dermawan karenanya usaha beliau maju cukup pesat dalam waktu singkat, hal ini wajar karena banyak orang yang merasakan kebaikannya, berdoa untuk kelimpahan rejeki pada keluarga beliau.
Dasar memberi yang sebenarnya adalah ketulusan, tanpa ketulusan kita memberi pasti ada udang dibalik rempeyek hehe.. ada pamrih disitu, ada tuntutan disitu. Memberi dengan ketulusan ada tujuan mulia disitu yakni membantu, menolong, disini tak melihat siapapun orangnya namun melihat apa kebutuhannya. Memberi dengan pamrih melihat siapa orangnya dan manfaat yang dia terima, ini seperti orang yang menaruh umpan saat dia memancing. Memberi akan kehilangan kekuatannya bila ada pamrih. Orang yang melakukannya hanya akan mendapatkan ikan yang terpaut di kail tidak lebih.
Memberi adalah proses aktif sementara diberi (baca menerima) adalah proses pasif. Memberi bukan hanya berkaitan dengan uang atau materi namun juga pada resources yang kita miliki, pengetahuan, ketrampilan, waktu, tenaga, serta apapun yang ada pada diri kita. Memberi lebih melibatkan pada siapa diri kita dan apa yang ada pada kita. Dengan memberi, Anda dituntut lebih aktif bergerak sementara diberi membuat Anda tidak bergerak kemanapun. Sewaktu saya memiliki blog yang didasari keinginan memberi, saya dituntut untuk lebih mengembangkan pemikiran saya melalui karya tulis dan nantinya tanpa disadari kemampuan saya dalam menulis, pengetahuan serta pemahaman saya semakin bertambah. Tentunya manfaat ini akan saya nikmati seiring dengan berjalannya waktu. Hal ini tentu berbeda bila saya hanya menerima pengetahuan dari orang lain.
Proses aktif ini sama halnya bila Anda bekerja, saat Anda bekerja memberikan yang terbaik (waktu, tenaga, pengetahuan dan ketrampilan yang Anda miliki) untuk perusahaan maka hal ini akan diperhitungkan kemudian, walaupun mungkin tidak saat ini atau dalam waktu dekat Anda merasakan manfaatnya, namun apa yang Anda berikan secara konsisten tersebut akan menghasilkan etos kerja, ritme kerja serta kualitas diri yang permanen. Dan ini akan memberikan keuntungan pada diri Anda dalam jangka panjang. Hasil ini berbeda, bila Anda tidak memberi yang terbaik ; berbeda bila Anda berhenti memberi yang terbaik saat Anda merasa yang Anda terima tidak sesuai ; berbeda bila Anda mulai berhitung atas apa yang Anda berikan. Bagaimana menurut Anda? (AB)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar