Minggu, 22 Juni 2008

Wong Ndeso


Dalam penerbangan saya menuju bandara Juanda Surabaya dari bandara Sepinggan Balikpapan, saya mendapatkan seat di sebelah jendela yang memang selalu saya inginkan di setiap penerbangan. Itu adalah kesempatan untuk menikmati keagungan Sang Pencipta dari ketinggian. Di tengah kepenatan selepas memberikan training untuk beberapa klien di Samarinda dan Balikpapan, rasanya suatu kelegaan bila dapat mensyukuri kemegahan karyaNYA.

Namun kemauan hati ini harus ditahan, karena ada seorang bapak paru baya yang sedang menduduki seat saya pas di sebelah jendela. Rasanya sebel deh.. lalu saya tunjukkan nomor seat saya serta menunjukkan nomor kursi di atas tempat duduk kami, tanpa tendeng aling-aling lagi saya minta dia untuk pindah seat dekat aisle. Bapak tadi nurut aja sambil meminta maaf, dan saya puas dapatkan seat saya dekat jendela. Hehe... kata hati saya sambil tersenyum simpul, senyum kemenangan.

Beberapa saat sebelum pesawat tinggal landas, saya mulai memasang dan mengencangkan seat belt saya sambil melirik ke arah bapak tadi yang berada disamping saya, dia rupanya tidak mengerti bagaimana memasang seat belt. Untunglah pramugari menunjukkan bagaimana menggunakan seat belt, sehingga diapun dapat memasang seat belt. Kejadian ini tiba-tiba menemplak saya, saya langsung diingatkan pada kejadian pertama kali saya naik pesawat, waktu itu maskapainya Simpati Air penerbangan menuju Palangkaraya. Wong ndeso yang naik pesawat baru di usia 23 tahun ini juga ga ngerti bagaimana memasang seat belt. Kontan saja, hal ini membuat saya menyesal dengan tindakan saya menyuruh bapak tadi pindah seat. Nurani saya langsung saja berteriak, "Siapa sih loe? bukankah kamu juga wong ndeso yang kini bisa menyandang status wong metropolis, ga usah sombong segala deh! ga pantes tahu!" kata hati saya. Walaupun penerbangan saya ga terhitung lagi, rasanya malu saat saya berkaca kembali, siapa sih saya?.

Saya segera melunak dan mulai mengajak bapak tadi ngobrol setelah pramugari selesai mendemontrasikan petunjuk keselamatan sambil mengkonfirmasi apakah ini penerbangan pertama beliau. Dan akhirnya benar juga dugaan saya, malu jadinya saya. Tanpa menunggu lama lagi, saya langsung menawarkan seat saya dekat jendela pada beliau sesaat setelah pesawat tinggal landas, dan langsung berdiri menyilahkan beliau untuk pindah dan beliaupun akhirnya mendapatkan seat dekat jendela pada penerbangan pertamanya dan saya yakin beliau sangat ingin menikmati penerbangan pertamanya dengan menikmati kemegahan alam dari balik pesawat.

Lalu kamipun bercakap-cakap layaknya teman lama dan sesekali saya biarkan beliau untuk menikmati pemandangan, beliau nampak menikmati pemandangan kota Surabaya yang penuh kilauan lampu di malam hari. Sesampainya di bandara Juanda, sayapun dikenalkan pada anaknya yang keesokan harinya di wisuda di salah satu perguruan tinggi di Surabaya.

Kejadian ini mengingatkan saya bahwa siapapun kita hari ini jangan sampai lupa asal muasal kita di masa lalu, hal inilah yang dapat membuat kita tetap bersyukur dan tetap rendah hati bahwa semuanya adalah anugrahNYA. (AB)

1 komentar:

eyang mojo mengatakan...

Wah memang begitu dasyat bila kita selalu mengingat arti dari pada keagungan sang pencipta, yawa hannya titipan tak perlu kita sombongkan di atas langit masih ada langit, maju trus untuk berkarya semoga lebih dasyat dan tentunya tambah Jozzz