Sabtu, 21 Juni 2008

Start Tanpa Finish

Coba Anda bayangkan suatu perlombaan lari marathon yang dimulai pada garis start di balai kota Surabaya pada pukul 07.00 berlangsung heboh lantaran pihak panitia tidak memberitahukan dimana garis finishnya. Panitia hanya minta mereka berlari ke arah barat kota tanpa garis finish jelas dan waktu berakhirnya. Perlombaan menjadi seru lantaran ada yang ga mau lari, ada pula yang jalan santai, eh.. ada pula yang akhirnya tertidur di balai kota bahkan ada yang lagi asyik menyeduh kopi di pinggir jalan dan tak sedikit yang kembali pulang rumah dengan hati kecewa.

Bila saya ikut serta pada perlombaan itu sangat mungkin juga saya bertindak hal yang sama, atau bahkan melakukan aksi protes atas ketidakjelasan tersebut. Masak orang disuruh lari marathon tanpa garis finish, gila kali!! Namun ternyata banyak juga yang masih ikut perlombaan itu karena ada kompensasi uang sebagai partisipan. Aneh bukan? tapi dalam perlombaan marathon sesungguhnya hal ini tidak terjadi. Benar kan?

Dalam perlombaan kehidupan, perlombaan yang sesungguhnya untuk mencapai kehidupan yang berarti baik di dunia maupun akhirat bukankah banyak orang yang bertindak seperti pada perlombaan marathon di atas. Tak ada tujuan yang jelas, tak ada garis finish yang ingin diraih, mereka sekedar jalan-jalan, mereka sekedar menjalani hidup karena "terpaksa" ada nyawa dalam diri mereka. Mereka ga peduli dengan cepatnya waktu berlalu, bagi mereka hidup seperti air yang mengalir tanpa tahu kemana tujuan air tersebut. Ehm... coba pikir,jangan-jangan airnya mengalir ke comberan haha.... Jangan salahkan comberannya tapi mengapa mereka nurut aja! Kalau kehidupan dibiarkan tanpa tujuan dan upaya mengejar tujuan tersebut, maka kehidupan itu sendiri layaknya zombie, hidup segan matipun tak mau. Nah... lho!

Bahkan di dunia bisnispun banyak pula pengusaha yang tak memiliki arah yang jelas, garis finish yang dituju. Mereka hanya sekedar menangkap peluang lalu bekerja keras tanpa pernah serius memikirkan mau dibawa kemana bisnis mereka ditengah persaingan usaha dan perubahan ekonomi yang kian pesat. Sesekali mereka berupaya namun tak terprogram, boro-boro konsisten, seporadis iya. Ya, supaya dilihat kolega ada upaya gitu lho.. jaga gengsi. Parahnya lagi mereka memacu karyawan mereka untuk bergerak ke arah kemajuan namun tetap tak jelas garis finishnya. "Pokoknya upayakan yang maksimal dik" kata mereka. Sementara anak buahnya berpikir, "maksimal itu berapa pak? dan konsekuensinya apa pak?" Udah maksimal aja, komentar bos.

Ini bukan hanya terjadi di dept penjualan namun terlebih di dept lain yang nota bene adalah dept pendukung kinerja walaupun secara tak langsung bukan penghasil omset. Nah, kalau udah begini, bisa-bisa perusahaan menunggu waktunya tiba untuk tergenjet oleh persaingan dan perubahan situasi ekonomi dan akhirnya mereka gulung tikar tanpa bisa berbuat banyak.

Mungkin sebagian dari mereka, kehidupan dan bisnis mereka tidak akan pernah terpuruk namun garis finish menentukan seberapa maksimal kita berupaya, menentukan bagaimana kita memanfaatkan waktu yang ada guna meraih hasil yang maksimal. Bukankah suatu kerugian yang tak ternilai bila kita hanya meraih sedikit dari hasil yang seharusnya kita bisa peroleh maksimal.

Sssstttt... jangan-jangan Anda salah satu dari mereka tersebut?

Masih mau menjalani hidup atau bisnis tanpa garis finish ? MAU ? 3 (AB)

1 komentar:

rd.cahyono mengatakan...

Stlh me-review, coba artikelna lbih fokus ttg tema blog gmn?