Lagu Kugadaikan Cintaku nyanyian Gombloh teringang ditelinga saya saat saya menuliskan artikel ini. Tentu sebagian besar Anda tahu lagu ini, lagu ini sempat populer di tahun 80-an sewaktu saya masih remaja. Lagu ini saya plesetkan menjadi "... kugadaikan diriku..". Di jaman yang serba materialistis dan serba sulit ini rupanya banyak orang juga menggadaikan barang-barang berharganya pada perum penggadaian guna mendapatkan cash money untuk memenuhi beragam kebutuhan mereka. Namun disadari atau tidak muncul pula wabah penggadaian integritas atau penggadaian diri guna mendapatkan cash money atau other income dari pekerjaan utama. Wabah ini menjangkiti banyak orang dari kalangan profesional,
Wabah ini menyebar dalam berbagai rupa ada suap, pelicin, tanda terima kasih, uang rokok, dan lain lain. Apapun bentuknya, wabah ini bertujuan mengendalikan si penerima dan berakibat si penerima wabah ini kehilangan kesadaran akan kebenaran, demam tinggi karena uang, kehilangan kendali atas integritasnya, dan akhirnya menggadaikan dirinya pada uang. Apapun yang dilakukan selalu UUD (Ujung Ujungnya Duit) dan hembusan nafasnya berbunyi..." Du..it...Du..it..Do it for.. Du..it" layaknya sebuah mesin pencari uang tanpa peduli bagaimana dia mendapatkannya walaupun menjual hati nurani, menjual kebenaran dan menggadaikan harga diri.
Penderita wabah ini di drive oleh uang. Bagian keuangan akan mencairkan uang walaupun belum jatuh tempo karena sudah mendapatkan pelicin di rekeningnya. Bagian DO (Delivery Order) akan membuatkan DO pada customer yang lebih dulu mentransfer sejumlah uang ke rekening pribadinya. Bagian operation akan menempatkan tenant atau supplier konsinyasi pada posisi strategis yang memiliki trafic bagus setelah ada tips. Bagian pembelian menentukan supplier tertentu setelah dia mendapatkan uang tanda terima kasih atau komisi sekian persen dari nilai pembelian atau nilai tender yang disetujui. Hakim atau jaksa akan memberikan vonis ringan bahkan bebas setelah ada uang perkara yang harus disetor dulu. Aparat berwajib akan mengakhiri perkara dengan jalan damai setelah mendapatkan uang dari kedua belah pihak. Para kriminal kerah putih menyetorkan sejumlah dana taktis pada oknum aparat agar bisnisnya berjalan lancar. Wabah ini seakan tak terkendali lagi.
Suatu ketika ada teman saya menghampiri saya dengan sukacita, dia menceritakan baru mendapatkan proyek baru yang akan menghasilkan keuntungan lumayan besar. Saat saya tanya bagaimana dia bisa mendapatkannya, dia menjawab, "Ah.. itu gampang! Setelah saya transfer sejumlah uang, dia (pengambil keputusan) jadi mudah diatur bahkan pencairan pembayaranpun gampang diatur." Kalau sudah seperti ini proses penggadaian telah berhasil, tak ada lagi rasa hormat yang ada hanyalah manipulasi sikap yang di dorong pada keuntungan pribadi semata. Bila si penderita wabah ini kehilangan jabatan dan kewenangannya maka hubunganpun berakhir.
Bagi Anda pemilik usaha yang memiliki karyawan penderita wabah ini tentu ini berdampak pada keuangan, independensi, kinerja dan juga image perusahaan. Semakin kronis dan meluasnya wabah ini, perusahaan akan tergerogoti dari dalam sebelum akhirnya tutup usia. Survey membuktikan kejatuhan perusahaan sebagian besar karena faktor internal salah satunya wabah ini. Lihat aja betapa terpuruknya bangsa ini. Bangsa yang seharusnya kaya raya melimpah dengan sumber daya alamnya berakhir menjadi bangsa yang miskin karena sebagian besar petingginya terjangkiti wabah ini dan akhirnya bangsa ini tergadaikan. Karyawan penderitaan wabah ini dapat pula menggadaikan perusahaan karena dibenaknya hanyalah kepentingan pribadi.
Bagi Anda profesional,
Bagi yang tidak tertular wabah ini dan Anda berpikir kok rasanya lebih mapan hidup orang yang kena wabah penggadaian, untuk jangka pendek ya.. tapi tidak untuk jangka panjang. Berbahagialah Anda yang masih memiliki prinsip dan harga diri yang tak tergadaikan. Orang jujur akan mewarisi negeri ini. Sukses selalu! (AB)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar